Editor's Vids

Tampilkan postingan dengan label Mine. Tampilkan semua postingan

Lirik Lagu "Hayang Kawin" - KunKun



Hayang Kawin win win win Hayang kawin
Geus teu tahan mang tauntaun bubujangan
Hayang Kawin win win win Hayang kawin
Geus teu kuat beurang peuting duh ngajablay

Era ku tatangga eujeung babaturan
Loba nu nyeletuk cenah kuring bujan galapuk
Isin ku pa RT isin ku pa RW
Sering ngalelewe cenah teu payu ka awewe

Hayang Kawin win win win
Hayang kawin euy..

Ema.. Bapa..
Cing pangneangkeun jodo
Kuring embung boga titel jomblo
Ema.. Bapa.. sok pangmilihkeun calon
Asal ulah urut ucing garong

Keun bae randa ema..
Randa bengsrat anyar pegat ema..
Komo parawan ema..
So pasti paten
Masih disegel masih disegel
gel.. gel.. gel.. gel..


Cara Ngadangukeun RBS di iPhone/iPodTouch

Radio Baraya Sunda narekahan teras kanggo ngungkulan paneka jaman supados radio streaming ieu tiasa didangukeun ku sadaya kalangan di sakuliah dunya. Salah sahiji aplikasi nu tos ngadakung kanggo disetel di gadget basis iOS, nyaeta Aplikasi RBS kanggo iPhone/iPodTouch. Aplikasi ieu didamel ku salah saurang baraya RBS anu dumuk di Jepang, Kang Dhany Irfan. Aplikasi RBS ieu tiasa didownload di aplikasi Apple sacara haratis. Kanggo baraya nu gaduh iPhone atanapi iPodTouch, mangga download wae aplikasi RBS di dieu:

Liputan Kegiatan Sunda Binangkit

Selama kegiatan Sunda Binangkit dilakukan, kami mengundang para insan pers untuk meliput kegiatan ini. Peliputan dilakukan oleh media massa cetak (koran dan majalah) serta media massa elektronik. Beberapa media massa yang meliput kegiatan Sunda Binangkit ini antara lain: Harian Umum Pikiran Rakyat, Harian Umum Koran Sindo, majalah Sunda Mangle, dan Radio Dahlia 101.5 FM. Berikut ini kliping liputan berita yang dimuat di koran.
 
Harian Umum Pikiran Rakyat, Senin (10/2/2014)
 
Harian Umum Koran Sindo, Selasa (11/2/2014)

Lirik Lagu "Matak Kabita" - Darso


Matak kabita
Mun hujan keur ngaririncik
Cai kopi ngabaturan kulub hui, goreng sampeu ngabaladan

Susuruputan...
Cikopi susuruputan
Leguk deui leguk deui
Lumayan teu katirisan

Susuruputan
Cikopi susuruputan
Kulub hui goreng sampeu
Lumayan keur ubar lapar

Profil Bungsu Bandung


Bungsu Bandung yang bernama lengkap Hj. Mimi Setiawati, adalah penyanyi Sunda asal Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Ibu yang punya suara khas ngajelengeng nan indah ini dilahirkan tanggal 5 November 1962, anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden. Bertahun-tahun lamanya ibu beranak tiga ini menekuni dunia musik, tak heran jika ia kini dikenal luas dan digemari oleh banyak orang Sunda. 

Urang Sunda pun sudah tak asing lagi dengan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut” yang dilantunkan Mamah Bungsu Bandung.  Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut, ibu yang senang berkebaya anggun dan pandai menari jaipong ini juga pandai melantunkan lagam degung, jaipong, ketuk tilu, kasidah, dll. Kini, Mamah Bungsu Bandung telah melahirkan puluhan album yang banyak disukai para penggemar musik Sunda.

Profil Radio Baraya Sunda


Radio Baraya Sunda (RBS), radio nu ngahususkan siaran dina jalur streaming online (internet). RBS diadegkeun di Bandung, Jawa Barat, Indonesia ping 20 Mei 2011 sacara rereongan (swadaya) ku sababaraha urang baraya Sunda di jaringan media sosial. Tujuan diadegkeunna Radio Baraya Sunda ieu salain kanggo ngawanohkeun khazanah Sunda oge media kanggo ngaraketkeun tali mimitran kaum dangu baraya RBS, nu aya di Tatar Sunda, Nusantara, oge nu nuju gumbara di luar negeri. Segmentasi kaum dangu RBS aya oge nu ti luar seke seler Sunda sareng urang asing (mancanegara).

Konsep radio streaming RBS ngagunakeun sistem siaran otomatis (Auto DJ). RBS tiasa didangukeun langsung di www.radiobarayasunda.com, BlackBerry (aplikasi NuxRadio sareng BB Launcher), Android (Apliksi TuneIn), Nokia (Internet Radio), iPhone, sareng gadget sanesna. Radio streaming RBS ieu teu ngudag kauntungan (profit). Namung, kanggo ngadukung sewa server, domain, mayar  listrik, pulsa modem, sareng waragad operasional sanesna, RBS nampi oge pangrojong ti pihak sanes (sponsor atanapi donatur).

Identitas Radio

● Nami udara: Radio Baraya Sunda (RBS) 
● Tanggal diadegkeun: 20 Mei 2011
● Slogan radio: Radiona Urang Sunda di Alam Maya
● Jangkauan siaran: sakuliah dunya
● Media gelombang siaran: Streaming online (internet)
 

● Format siaran: Hiburan  
● Website: www.radiobarayasunda.com
● Kontak donasi:  kontakbaraya@gmail.com
● Facebok:
- Group Radio Baraya Sunda
- Halaman Radio Baraya Sunda
- Halaman Penggemar Lagu Sunda
● Twitter: @radio_rbs


Profil Upit Sarimanah


Upit Sarimanah dilahirkan di Sadang, Purwakarta, 16 April 1928 dengan nama asli Suryamah. Sejak kecil, ia sudah memperlihatkan bakatnya menyanyi. Bahkan tatkala usianya menginjak tujuh tahun, ia sudah berani tampil di depan umum. Sejak itu, orang sudah menduga, gadis kecil berkulit hitam manis itu, suatu saat bisa menjadi pesinden terkenal. Apalagi setelah suaranya mengalun lewat acara di Radio Nirom, radio milik Belanda di Bandung.


Bahkan sebelum TVRI lahir; dimana saat itu RRI merupakan satu-satunya hiburan yang menjangkau masyarakat luas, salah satu siaran favoritnya, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat, adalah kesenian Sunda. Kesenian ini disiarkan langsung dari Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat dengan pesindennya Upit Sarimanah yang memiliki paras hitam manis dan selalu tampil berpakaian kain dan kebaya.

Banyak yang tergila-gila dengan suara melengking-lengkingnya Upit Sarimanah sehingga saat siarannya berlangsung tiap Ahad pagi, Museum Nasional selalu ramai pengunjung. Tidak jarang para penontonnya bertepuk tangan dan bersuit. Penggemarnya ada yang dari Bandung. Saking banyaknya penggemar yang datang, saat menyanyi Upit duduk di bangku khusus yang letaknya lebih tinggi dari dalang dan para pemain tetabuhan. Bahkan ketenaran sinden ini melebihi ketenaran dalangnya sendiri.

Selain Mojang Priangan, beberapa lagu Upit Sarimanah yang populer antara lain Bajing Luncat, Sakadang Kuya jeung Monyet, Kukupu, dan Sedih Prihatin. Upit pernah memimpin “Gamelan Siliwangi”. Beberapa lagu yang direkam Perusahaan Piringan Hitam “Dimita Moulding Industries” antara lain Ekek Paeh Tablo (NN), Karyawan Elodan (Upit Sarimanah), Tauco Cianjur (Moch. Jasin), Nampi Ondangan, Gupay Pileuleuyan (Mang Koko), Mojang (Upit Sarimanah), Bangbung Ranggaek (Kosaman Djaja), Nyoreang ka Tukang, Bajing Luncat (Kosaman Djaja), Hariring nu Kungsi Nyanding (Mang Koko/S. Winarja), dan Mapay Laratan.


Tahun 1970-an ketika pensiun dari sinden, Upit memilih profesi sebagai mubalighah. Sebagai juru dakwah ia mendapat banyak panggilan. Dengan suaranya yang merdu, saat dakwah dia melantunkan lagu dan berpantun berisi ajakan pada umat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sinden yang ramah  dan murah senyum ini tidak merasa kehilangan gengsi saat mendatangi kampung-kampung yang kumuh. Tidak tergiur amplop lebih besar hingga mengabaikan panggilan masyarakat tidak berpunya.

Hajah Upit Sarimanah yang pada usia lanjutnya mengidap komplikasi ginjal, darah tinggi, dan beberapa penyakit lainnya, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Al Afiah pada 11 Februari 1992.

Sumber: 

Profil Rika Rafika

Rika Rafika, lahir di Banjaran, Bandung, 17 Januari 1979, merupakan bungsu dari pasangan Enan Cardian dan Sula Nengsih.  Rika seorang seniwati yang belajar seni secara otodidak, dan mengawali karirnya dengan menjadi penari. Dalam pendidikan formal Rika meraih gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat tahun 2007.

Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.

Selain sukses di panggung-panggung festival, kesuksesan Rika juga dibuktikan dengan menjadi  Duta Seni ke beberapa Negara, seperti Rumania, Scotlandia, Yugoslavia, Turki, Yunani, Abudabi, Perancis, Belanda, Jepang, korea dan lain-lain.

Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.

Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda  tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.

Profil Darso


Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso (lahir di Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 1945 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 12 September 2011 pada umur 66 tahun)adalah penyanyi pop Sunda Indonesia. ia mempunyai seorang istri pertama bernama Epong (almarhum), setelah istrinya meninggal kemudian menikah dengan Lina Marlina.

Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peritiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 beliau memulai lagi karirnya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.

Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".

Pada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "randa geulis", "maribaya", "dina amparan sajadah", "kabogoh jauh".

Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.

Ia meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,

Mirum est notare quam

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi.

Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.

Sosialisasi Kegiatan Sunda Binangkit

Untuk meningkatkan awareness publik, kami pun melakukan kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit melalui media massa. Dalam hal ini, kami menggunakan jalur promosi di media cetak (koran), radio,dan televisi lokal di Bandung.

Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Talk show panitia Sunda Binangkit di MQTV
Rubrik Jalan Bdg, Pikiran Rakyat, Sabtu (08/02/2014)



Untuk media promosi lainnya juga kami menggunakan media cetak, antara lain: spanduk, baliho, majalah Banyolan Sunda, backdrop, name tag, t-shirt panitia, poster, dsb.

Kami pun melakukan sosialisasi dengan membentuk jaringan promosi di komunitas-komunitas Sunda yang selama ini menjadil kemitraan dengan Mitra Baraya dan Komunitas Banyolan Sunda. Untuk itu, penyebaran informasi mengenai kegiatan Sunda Binangkit dilakukan melalui kontak komunikasi langsung dan juga melalui jejaring sosial, yaitu di Facebook, Twitter, WhatsApp, radio online, dsb. Pola promosi dengan jejaring sosial ini dirasa efektif karena selama ini komunikasi kami dengan baraya Sunda lebih banyak di dunia maya. Salah satu kelebihannya lebih real time dalam update informasi, seperti penyebaran banner image, informasi bintang tamu, serta informasi pendaftaran stand.

Profil Doel Sumbang


Doel Sumbang, seniman mumpuni dalam ranah musik tanah air dan Tanah Pasundan. Seniman musik ini terkenal dengan lagu-lagunya, baik yang berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Sunda. Pemilik nama asli Wahyu Affandi ini muncul dalam kancah musik Indonesia sekitar tahun 1980-an. Karakter lagunya dengan pengucapan lagu tak lazim serta kritik sosial atau penggambaran sosial yang lebih “membumi”. Tidak heran jika lagu-lagunya tetap dikenal hingga kini.

Doel Sumbang lahir di Bandung, 16 Mei 1963 dengan nama Wahyu Affandi. Doel lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri yang agamis. Ayahnya yang dikenal dengan sebutan ‘Abah Kabayan’ adalah seorang mubalig di Kota Bandung. Ia mulai bersentuhan dengan dunia seni khusunya seni musik dan teater saat duduk di bangku SMP. Ia menimba ilmu pada sastrawan nyentrik, Remy Sylado. Di tempat inilah pertama kali dia mendapat julukan ‘Doel’. Sejak saat itu, Doel mulai menuangkan imajinasinya menjadi lirik-lirik lagu yang sarat dengan kritik sosial. Tema yang pada saat itu bisa dibilang belum banyak diangkat. Syair-syair yang digunakannya pun sederhana dan merakyat.

Keunikan itulah yang kemudian mengundang ketertarikan dari seorang produser bernama Handoko Kusumo. Ia berminat merekam karya-karya Kang Doel. Hingga pada akhirnya, Doel berhasil mengorbit di kancah musik tanah air sekitar tahun 80-an. Handoko juga yang menyematkan kata Sumbang di belakang nama Doel. ‘Sumbang’ di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik terhadap sistem maupun budaya, meski liriknya jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas. Kecerdasan kritik seorang Doel Sumbang dapat didengar lewat lagu Aku si Raja Goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dan masih banyak lagi. Ada pula lagu berjudul Aku, Tikus, dan Kucing, yang secara khusus diciptakannya untuk menyentil perilaku gadis zaman sekarang hingga kondisi kampung halamannya, Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Di sisi lain, Doel bukanlah musisi yang anti lagu cinta. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta namun tetap dengan gayanya. Meski liriknya nyeleneh, Doel mampu memberikan nuansa romantis namun tidak cengeng di setiap lagu-lagu cinta yang ditulisnya. Ia juga tak lupa menyematkan tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya seperti dalam lagu Arti Kehidupan.

Dari sekian banyak lagu bertema cinta yang ia ciptakan, lagu berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong-lah yang paling fenomenal. Lagu itu dibawakan secara duet dengan menggandeng pelantun Gantengnya Pacarku, Nini Karlina. Kesuksesan Kalau Bulan Bisa Ngomong melahirkan hits berikutnya, Rindu Aku Rindu Kamu yang juga dibawakannya bersama Nini. Selain Nini Karlina, Doel pernah berduet dengan seorang penyanyi bernama Ikko membawakan lagu Cuma Kamu.

Selain menciptakan lagu berbahasa Indonesia, Doel juga turut melestarikan bahasa Sunda lewat lagu-lagunya. Bagi penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan tembang Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dan masih banyak lagi.

Lagu berbahasa Sundanya pun tak lepas dari kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, dan Bereny. Lagu-lagu Sunda hasil kreativitas Doel bahkan meledak saat bergulirnya Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya Doel juga kerap dibawakan seniman Pasundan lainnya seperti Darso dan Nining Meida.

Doel memang sangat peduli pada budaya asli leluhurnya termasuk kepada sesama seniman Sunda. Meninggalnya Kang Ibing pada 19 Agustus 2010, kemudian mencetuskan ide untuk melestarikan karya-karya aktor pemeran tokoh Kabayan itu. Salah satunya adalah dengan mengaransemen ulang lagu ciptaan Kang Ibing yang berjudul Persib. Lagu tersebut diciptakan Kang Ibing saat Persib sedang berjaya. Selain mengaransemen ulang lagu Kang Ibing, Doel Sumbang dan sejumlah seniman lainnya juga berencana menerbitkan beberapa buku dan kumpulan puisi Kang Ibing.

Nama Doel Sumbang sempat tenggelam pada pertengahan tahun 2000-an. Meski demikian, bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu sebab ia masih menggarap lagu-lagu lama miliknya. Jika bicara soal eksistensinya sebagai penyanyi, ia merasa produktivitas tak hanya dinilai dari banyaknya ia tampil namun terlebih dari ide yang muncul dan semangatnya untuk terus berkarya.

Deskripsi Kegiatan Sunda Binangkit (2)

Pukul 13.00 - 14.00 WIB


Setelah jeda istirahat dan shalat, acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan jaipongan dan pertunjukan Galengan Sora Awi. Penampilan Galengan Sora Awi mengundang para penonton untuk berjoged bersama di dekat panggung. Di sela-sela acara diselipkan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit.

Pukul 14.00 - 15.00 WIB

 
Acara pertunjukan dari Sundanis Hip Hop Sunda. Sundanis membawakan beberapa lagu yang diiringi pengiring musik dari DJ Mai. Penampilan Sundanis pun menarik pengunjung untuk bergoyang bersama dengan iringan musik yang nge-beat.

Pukul 15.00 - 16.00 WIB

 
Acara pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit oleh MC. Pembagian doorprize dilakukan secara interaktif oleh MC. Dalam bagian ini disebutkan juga nama-nama stand serta produk apa saja yang dijual. Setelah itu, pertunjukan calung dari Sanggar Ambu Tisum, Kuningan.

Pukul 16.00 - 17.30 WIB

 
Sebelum pindah ke acara selanjutnya, dilakukan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit. Lalu, masuk pengisi acara calung dari sanggar yang dikelola oleh keluarga Darso. Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan dari bintang tamu Dinasti Darso (Yayan Jatnika, Asep Darso, Ujang Darso).

Profil Idjah Hadidjah


Hj. Idjah Hadijah, ejaan lama: Idjah Hadidjah lahir di Kabupaten Karawang, 12 Maret 1956; adalah pesinden wayang golek dan penyanyi lagu jaipongan asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Suaminya bernama Tjetjep Supriadi, seorang pemimpin grup wayang golek. Ia sering menyanyi ditemani Samin dan Suwanda yang bermain kendang. Lagu hit jaipongan darinya adalah "Daun Pulus Keser Bojong".

Karier
Ijah dilahirkan dari orang tua pecinta seni Sunda, dan mulai belajar sebagai pesinden sejak tahun 1970-an. Ia berguru kepada Deden Winingsih, dan bergabung dengan kelompok wayang golek Tjetjep Supriadi sejak tahun 1972. Tjetjep Supriadi kemudian menjadi suaminya.

Pada tahun 1980-an, Ijah berada di puncak karier sebagai pesinden untuk kelompok wayang golek yang dipimpin oleh suaminya. Gugum Gumbira lalu mengontraknya untuk menyanyikan lagu-lagu jaipong untuk grup Jugala. Selama sekitar 4 tahun, Ijah merekam sekitar 40 album jaipongan dalam bentuk kaset, serta musik berirama lainnya. Lagu "Daun Pulus Keser Bojong" sukses sebagai lagu hit, dan kini telah menjadi lagu standar untuk jaipongan. Lagu tersebut telah dirilis di Amerika Serikat oleh Elektra/Nonesuch Records dalam album Tonggeret pada tahun 1987. Album Tonggeret dirilis ulang pada tahun 2003 dalam album West Java: Sundanese Jaipong and other Popular Music.

Sebagai penyanyi terkenal dengan teknik vokal yang disenangi penggemar laki-laki, Ijah tidak pernah tampil menyanyi atau menari di atas panggung. Ia bahkan pernah berkata bahwa rekaman jaipongan bukan merupakan favoritnya karena pukulan kendang yang dinamis mengganggunya sewaktu menyanyi.

Diskografi
 
Album
- Daun Pulus Keser Bojong
- Melak Sampeu: Ketuk Tilu Jaipong Vol 1 (bersama Usdi Group)
- Kembang Gandrung Raranggeuyan (bersama Jugala Group)
- Buludru Hideung (bersama Jugala Group)
- Jaipongan Daun Pulus
- Tepung Di Luhur Panggung
- Seunggah (bersama Jugala Group)
- Kang Ibing: Istri Pangharan
- Serat Salira
- Tepung Du Luhur Panggung (bersama Pangrawit Group)
- Sinden Beken Vol. VII (bersama Jugala Group)
- Ijah - Kidung - Surat Kayas