Tampilkan postingan dengan label Warta Urang Sunda. Tampilkan semua postingan
1. Pengisi Acara
Untuk ke depannya, penerima Tawis Pangajén ini akan kami tambah kembali dengan rekomendasi dari masyarakat atau pihak-pihak lain yang menaruh kecintaan pada Ki Sunda. Para penerimanya pun akan kami salurkan dari ragam kalangan (sastrawan, pendidik, aktivis lingkungan hidup, dsb.) yang intinya dia adalah sosok urang Sunda yang telah memberikan teladan, karya, jasa, dan juga telah menginspirasi masyarakat dalam bidang kerja/aktivitas yang telah dilakukannya. Apa yang kami lakukan ini, adalah secuil upaya sebagai penghargaan kepada mereka yang telah mengabdikan dirinya pada hirup hurip Ki Sunda.
Semoga pula, dengan kegiatan Tawis Pangajén kepada para aktivis Sunda ini, dapat menjadi kegiatan rutin yang dilakukan pula oleh pihak lain, baik itu komunitas, lembaga, atau perusahaan. Kami pun membuka pintu lebar-lebar dalam membina kerja sama dengan pihak lain untuk mengadakan kegiatan semacam ini. Harapannya, semoga filosofi paheuyeuk-heuyeuk leungeun di kalangan masyarakat Sunda lebih erat dengan visi-misi memajukan Ki Sunda dengan semangat kepedulian bersama mengisi satu sama lain.
● Nami udara: Radio Baraya Sunda (RBS)
● Tanggal diadegkeun: 20 Mei 2011
● Slogan radio: Radiona Urang Sunda di Alam Maya
● Jangkauan siaran: sakuliah dunya
● Media gelombang siaran: Streaming online (internet)
● Format siaran: Hiburan
● Website: www.radiobarayasunda.com
● Kontak donasi: kontakbaraya@gmail.com
● Facebok:
- Group Radio Baraya Sunda
- Halaman Radio Baraya Sunda
- Halaman Penggemar Lagu Sunda
● Twitter: @radio_rbs
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Pukul 07.00 - 09.00 WIB
Panitia memastikan persiapan lokasi kegiatan, panggung, sound system, dan juga para pengisi stand. Termasuk kesiapan media promosi yang dipasang di sekitar lokasi kegiatan.
Pukul 09.00 - 10.00 WIB
Para pengunjung, pengisi acara, perwakilan para penerima lifetime achievement sudah mulai berdatangan ke lokasi acara. MC acara menyiapkan kembali rundown acara bersama pihak panitia yang bertugas sebagai pengarah acara dan floor director.
Pukul 10.00 - 11.00 WIB
Para pengisi acara (Galengan Sora Awi, Sundanis Hip Hop, dan Dinasti Darso) bergiliran melakukan check sound. Hal ini untuk menyesuaikan dengan karakter musik dan lagu yang akan dibawakan.
Pukul 11.00 - 12.00 WIB
Acara pertunjukan dari Sundanis Hip Hop Sunda. Sundanis membawakan beberapa lagu yang diiringi pengiring musik dari DJ Mai. Penampilan Sundanis pun menarik pengunjung untuk bergoyang bersama dengan iringan musik yang nge-beat.
Pukul 15.00 - 16.00 WIB
Acara pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit oleh MC. Pembagian doorprize dilakukan secara interaktif oleh MC. Dalam bagian ini disebutkan juga nama-nama stand serta produk apa saja yang dijual. Setelah itu, pertunjukan calung dari Sanggar Ambu Tisum, Kuningan.
Pukul 16.00 - 17.30 WIB
Sebelum pindah ke acara selanjutnya, dilakukan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit. Lalu, masuk pengisi acara calung dari sanggar yang dikelola oleh keluarga Darso. Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan dari bintang tamu Dinasti Darso (Yayan Jatnika, Asep Darso, Ujang Darso).
Kegiatan Sunda Binangkit 2014
Posted by : Baru Baru 322 / on :Selasa, 11 Februari 2014
Event Sunda Binangkit 2014 akhirnya bisa terlaksana dengan baik. Acara ini digelar di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jln. Peta no. 209 Bandung. Adapun acaranya sendiri dimulai pada pukul 11.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Panitia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung dan pengelola Padepokan Seni Mayang Sunda serta:
1. Para sponsor dan media partner:
- Bank BJB
- PT Rama Mitra Jasa
- Ciater Resort & Hotel
- Lingga Hotel
- Asuransi Askrida
- Radio Dahlia 101.5 FM
- Harian Umum Pikiran Rakyat
- Harian Umum Koran Sindo
- MQTV
2. Pendukung acara:
- Ceu Popon dan Mr. Jun
- Sundanis Hip Hop Sunda
- Galengan Sora Awi
- Kang Haji Taufik Faturohman (Sulap Dongeng)
- Dinasti Darso (Yayan Jatnika, Asep Darso, Ujang Darso) dan group calung
- Tim kesenian calung Ambu Tisum Sunda (Kuningan)
- serta para pengisi acara lainnya.
3. Perwakilan keluarga penerima tawis pangajen (lifetime achievement):
- Keluarga Kang Ibing
- Keluarga Wa Kepoh
- Keluarga Kang Darso
4. Para pengisi stand, dan tentunya para pengunjung yang sudah menghadiri acara ini.
Kegiatan ini tiada lain sebagai ajang silaturahmi dulur Ki Sunda, promosi usaha UMKM urang Sunda, dan juga sebagai media apresiasi seni budaya Sunda. Pihak penyelenggara pun menghaturkan terima kasih atas masukan dan saran mengenai event ini. Pihak penyelenggara juga mengucapkan terima kasih atas usulan-usulan dari baraya yang mengharapkan kegiatan Sunda Binangkit ini menjadi agenda rutin setiap tahun dengan pengemasan yang lebih gebyar dengan dukungan sponsor, acara, dan segmen target pengunjung yang lebih luas.
1. Pengisi Acara
| Galengan Sora Awi |
Para pengisi acara dan penerima lifetime achievement adalah mereka yang benar-benar kental unsur kesundaaanya. Khusus pengisi acara yang menghibur penonton, sudah kenal baik dengan karakter penonton yang sangat mencintai seni budaya Sunda. Untuk itu, segi interaksi antara pengisi acara dan penonton seakan tidak ada jarak. Apalagi mereka sudah biasa pentas di Padepokan Mayang Sunda. Maka, interaksi antara penonton dan pengunjung terasa sekali. Hal ini ditandai dengan keterlibatan penonton untuk berjoged ria dengan Galengan Sora Awi, Sundanis Hip Hop Sunda, Dinasti Darso, dan juga saat acara sulap dongeng yang dibawakan oleh Taufik Faturohman. Begitu pula hubungan antara pembawa acara (MC), pengisi acara, dan penonton terasa begitu cair.
2. Pengunjung
Pengunjung kegiatan Sunda Binangkit dengan profil pengunjung dari komunitas-komunitas Sunda, para pelaku usaha, dan juga masyarakat umum lainnya. Para pengunjung secara umum sudah mengenal satu sama lain dengan komunikasi di jejaring kegiatan yang selama ini mereka lakoni dalam kegiatan kesundaan. Dilihat dari kondisi di lokasi acara, para pengunjung yang datang ada yang dengan tertarik untuk menonton pentas seni Sunda; membeli barang pernak-pernik kesundaan yang tersedia di stand; dan juga mereka sekadar ingin berjumpa/riung mungpulung dengan baraya lainnya yang selama ini saling interaksi di dunia maya.
3. Pengisi Stand
Para pengisi stand didapatkan dari penyebaran informasi di jejaring sosial (internet). Dalam hal ini, panitia membuka ruang pendaftaran bagi baraya yang ingin membuka stand. Ada beberapa persyaratan yang panitia berikan pada pengisi standa. Dimana salah satunya setiap stand adalah pelaku usaha yang sudah lebih dari 1 tahun menjalankan usahanya. Akhirnya, didapatkan 18 pengisi stand dengan jenis produk yang mereka jual, antara lain:
- Stand barang-barang khas Sunda: iket, pangsi, t-shirt Sunda, karinding,dsb.
- Stand Makanan dan minuman: keripik, cemilan khas Sunda, kopi, wajit, angleng, gurilem, dsb.
- Stand fashion modern: baju anak, baju wanita, busana muslim, kaos bola/jersey, dsb.
- Stand buku Sunda: novel, cerpen, humor, karya ilmiah, biografi, dsb.
- Stand kosmetik kecantikan
- Stand kacamata
Pengisi stand pun ada yang berasal dari berbagai kota lain di luar Bandung, yaitu dari Karawang, Sumedang, Bogor, Kuningan, Majalengka, Tasikmalaya, dan Garut. Pengisi stand pun ada yang menyediakan aneka alat permainan anak-anak khas Sunda: rorodaan, sumpit, bebedilan, dsb. Aneka permainan tersebut digunakan oleh para pengunjung anak-anak. Hal ini juga sebagai upaya mengenalkan permainan tradisional Sunda kepada anak-anak.
- Stand barang-barang khas Sunda: iket, pangsi, t-shirt Sunda, karinding,dsb.
- Stand Makanan dan minuman: keripik, cemilan khas Sunda, kopi, wajit, angleng, gurilem, dsb.
- Stand fashion modern: baju anak, baju wanita, busana muslim, kaos bola/jersey, dsb.
- Stand buku Sunda: novel, cerpen, humor, karya ilmiah, biografi, dsb.
- Stand kosmetik kecantikan
- Stand kacamata
Pengisi stand pun ada yang berasal dari berbagai kota lain di luar Bandung, yaitu dari Karawang, Sumedang, Bogor, Kuningan, Majalengka, Tasikmalaya, dan Garut. Pengisi stand pun ada yang menyediakan aneka alat permainan anak-anak khas Sunda: rorodaan, sumpit, bebedilan, dsb. Aneka permainan tersebut digunakan oleh para pengunjung anak-anak. Hal ini juga sebagai upaya mengenalkan permainan tradisional Sunda kepada anak-anak.
Tawis Pangajén (Lifetime Achievement) Sunda Binangkit: Kang Ibing, Wa Kepoh, Darso
Posted by : Baru Baru 322 / on :Senin, 27 Januari 2014
Sunda militan, itulah kami menyebutnya bagi para pegiat kesundaan. Ya, merekalah yang berjuang demi Ki Sunda tanpa niat apapun. Bagi mereka yang penting bagaimana nilai-nilai dan khazanah kesundaan bisa lebih menyebar di masyarakat. Para militan tersebut bergerak dalam ranah seni, sastra, dongeng, hingga komunitas-komunitas dan pelaku usaha berbasis kesundaan. Inilah yang akhirnya membangkitkan kesadaran bagi Mitra Baraya untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang telah berjuang dan berupaya untuk melestarikan khazanah kesundaan kepada masyarakat.
Untuk kegiatan Sunda Binangkit ini, kami memilih tiga nama yang akan dianugerahi lifetime achievement, yaitu: Kang Ibing, Wa Kepoh, dan Darso. Untuk kegiatan ini kami mendapat dukungan dari baraya yang punya simpati terhadap upaya yang kami lakukan ini. Alhamdulillah, bentuk dukungan dari baraya itu berupa tawis kadeudeuh hingga pemberian selendang Sunda, khusus dibuat oleh Kang Agus Roche pengelola Distro Sunda. Terima kasih atas rojongan dan simpati dari baraya semua.
Untuk kegiatan Sunda Binangkit ini, kami memilih tiga nama yang akan dianugerahi lifetime achievement, yaitu: Kang Ibing, Wa Kepoh, dan Darso. Untuk kegiatan ini kami mendapat dukungan dari baraya yang punya simpati terhadap upaya yang kami lakukan ini. Alhamdulillah, bentuk dukungan dari baraya itu berupa tawis kadeudeuh hingga pemberian selendang Sunda, khusus dibuat oleh Kang Agus Roche pengelola Distro Sunda. Terima kasih atas rojongan dan simpati dari baraya semua.
Kang Ibing
Kang Ibing adalah sosok seniman humor Sunda yang telah memberikan ciri tersendiri bagi perkembangan humor Sunda. Bukan berarti kami menyisihkan nama-nama seniman humor lain. Seperti diketahui, sang seniman multitalenta ini tak lepas dari group lawak De Kabayan yang telah membesarkan namanya. Guyonan ala Sunda dengan Kang Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawa Sofyan, dan Mang Ujang telah memberikan hiburan segar kepada masyarakat. Namanya pun tidak hanya dikenal di Tatar Sunda, namun sampai tingkat nasional dan internasional. Terbukti, selepas "pensiun" dari De Kabayan, ia yang beralih menjadi penceramah kerap diundang ke luar negeri untuk berceramah.
Sosoknya yang polos dan lawakannya yang natural telah menjadikan sosok Kang Ibing sebagai maestro humor dalam ranah lawakan untuk masyarakat Jawa Barat. Malah, sampai kini pun tak sedikit masyarakat yang masih menggemari lawakan-lawakannya. Terbukti humor-humornya yang berseberan di jejaring internet banyak yang mengunduhnya, dari mulai bobodoran dengan De Kabayan, kolaborasi wayang bodor dengan Giri Harja III, hingga rekaman siaran-siarannya di Radio Mara.
Wa Kepoh
Era 80-an adalah masa jayanya dongeng Sunda yang disiarkan di radio. Bicara tentang dongeng Sunda, rasanya siapa yang tidak mengenal dongeng "Si Rawing" fenomenal. Sang juru cerita dongeng "Si Rawing" adalah Wa Kepoh alias Ahmad Sutisna. Siaran dongengnya pada masa itu telah "mempersatukan" urang Sunda untuk duduk di depan radio dan mendengarkan episode-episode dongeng si Rawing. Malah, dengan kefenomenalan dongeng tersebut, "Si Rawing" pernah diangkat ke layar lebar. Inilah bukti bahwa dongeng Sunda telah menjadi bagian yang turut memberikan sumbangsih pada ranah hiburan nasional. Sampai sekarang, fenomena ini belum tergantikan.
Wa Kepoh adalah sosok sederhana yang menjadikan dongeng sebagai media hiburan sekaligus tuntunan hidup. Dalam bincang-bincang dengan Tim Mitra Baraya pada medio 2012, Wa Kepoh menuturkan, "Uwa berdongeng bukan hanya sekadar hiburan. Uwa menyelipkan pesan-pesan kehidupan dalam dongeng si Rawing. Alhamdulillah, masyarakat bisa menerimanya dan Uwa pun bertambah rantai silaturahmi dengan masyarakat. Inilah yang membuat Uwa bangga. Apalagi ketika Uwa kerap menerima kunjungan baraya yang ingin mendengarkan Uwa mendongeng di studio. Belum lagi yang mengundang Uwa untuk pentas. Ya, Uwa bangga dengan hal itu. Ternyata dengan seni tutur cerita pun, masyarakat Sunda bisa bersatu."
Ya, fenomena si Rawing telah menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat Sunda. Pada masanya, orang rela membeli radio transistor atau membeli batu batrei untuk mendengarkan sepak terjang sosok si Rawing. Walaupun disiarkan dari sebuah radio di Bandung, namun siaran dongeng si Rawing kemudian menyebar merata di kota-kota di Jawa Barat.
Darso
Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso (lahir di Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 1945 – meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, 12 September 2011 pada umur 66 tahun) adalah penyanyi pop Sunda. Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Pada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "randa geulis", "maribaya", "dina amparan sajadah", "kabogoh jauh". Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.
Sosok Darso sangat digemari masyarakat. Sikapnya yang nyeleneh dan sederhana, telah menjungkirbalikkan kesan bahwa namanya pesohor haruslah "menjaga jarak" dengan masyarakat. Dimana pun Darso tampil apa adanya. Ia tak segan bercengkrama dengan masyarakat tempat ia manggung. Ia pun menerima foto bersama dari pejabat hingga pedagang buntil sekalipun. Saat berpentas, ia tak sungkan untuk berbaur dengan penonton. Ia ikut bergoyang dan mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Namun, di balik itu karya-karya Sang Fenomena ini tetaplah menjadi bagian dari masyarakat. Lagu-lagunya sampai sekarang masih digemari, walaupun dirinya telah menghadap Sang Khalik.
Untuk ke depannya, penerima Tawis Pangajén ini akan kami tambah kembali dengan rekomendasi dari masyarakat atau pihak-pihak lain yang menaruh kecintaan pada Ki Sunda. Para penerimanya pun akan kami salurkan dari ragam kalangan (sastrawan, pendidik, aktivis lingkungan hidup, dsb.) yang intinya dia adalah sosok urang Sunda yang telah memberikan teladan, karya, jasa, dan juga telah menginspirasi masyarakat dalam bidang kerja/aktivitas yang telah dilakukannya. Apa yang kami lakukan ini, adalah secuil upaya sebagai penghargaan kepada mereka yang telah mengabdikan dirinya pada hirup hurip Ki Sunda.
Semoga pula, dengan kegiatan Tawis Pangajén kepada para aktivis Sunda ini, dapat menjadi kegiatan rutin yang dilakukan pula oleh pihak lain, baik itu komunitas, lembaga, atau perusahaan. Kami pun membuka pintu lebar-lebar dalam membina kerja sama dengan pihak lain untuk mengadakan kegiatan semacam ini. Harapannya, semoga filosofi paheuyeuk-heuyeuk leungeun di kalangan masyarakat Sunda lebih erat dengan visi-misi memajukan Ki Sunda dengan semangat kepedulian bersama mengisi satu sama lain.
Liputan Kegiatan Sunda Binangkit
Posted by : Baru Baru 322 / on :Kamis, 11 Agustus 2011
Selama kegiatan Sunda Binangkit dilakukan, kami mengundang para insan pers untuk meliput kegiatan ini. Peliputan dilakukan oleh media massa cetak (koran dan majalah) serta media massa elektronik. Beberapa media massa yang meliput kegiatan Sunda Binangkit ini antara lain: Harian Umum Pikiran Rakyat, Harian Umum Koran Sindo, majalah Sunda Mangle, dan Radio Dahlia 101.5 FM. Berikut ini kliping liputan berita yang dimuat di koran.
![]() |
| Harian Umum Pikiran Rakyat, Senin (10/2/2014) |
![]() |
| Harian Umum Koran Sindo, Selasa (11/2/2014) |
Profil Bungsu Bandung
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Bungsu Bandung yang bernama lengkap Hj. Mimi Setiawati, adalah penyanyi Sunda asal Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Ibu yang punya suara khas ngajelengeng nan indah ini dilahirkan tanggal 5 November 1962, anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden. Bertahun-tahun lamanya ibu beranak tiga ini menekuni dunia musik, tak heran jika ia kini dikenal luas dan digemari oleh banyak orang Sunda.
Urang Sunda pun sudah tak asing lagi dengan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut” yang dilantunkan Mamah Bungsu Bandung. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut, ibu yang senang berkebaya anggun dan pandai menari jaipong ini juga pandai melantunkan lagam degung, jaipong, ketuk tilu, kasidah, dll. Kini, Mamah Bungsu Bandung telah melahirkan puluhan album yang banyak disukai para penggemar musik Sunda.
Profil Radio Baraya Sunda
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Radio Baraya Sunda (RBS), radio nu ngahususkan siaran dina jalur streaming online (internet). RBS diadegkeun di Bandung, Jawa Barat, Indonesia ping 20 Mei 2011 sacara rereongan (swadaya) ku sababaraha urang baraya Sunda di jaringan media sosial. Tujuan diadegkeunna Radio Baraya Sunda ieu salain kanggo ngawanohkeun khazanah Sunda oge media kanggo ngaraketkeun tali mimitran kaum dangu baraya RBS, nu aya di Tatar Sunda, Nusantara, oge nu nuju gumbara di luar negeri. Segmentasi kaum dangu RBS aya oge nu ti luar seke seler Sunda sareng urang asing (mancanegara).
Konsep radio streaming RBS ngagunakeun sistem siaran otomatis (Auto DJ). RBS tiasa didangukeun langsung di www.radiobarayasunda.com, BlackBerry (aplikasi NuxRadio sareng BB Launcher), Android (Apliksi TuneIn), Nokia (Internet Radio), iPhone, sareng gadget sanesna. Radio streaming RBS ieu teu ngudag kauntungan (profit). Namung, kanggo ngadukung sewa server, domain, mayar listrik, pulsa modem, sareng waragad operasional sanesna, RBS nampi oge pangrojong ti pihak sanes (sponsor atanapi donatur).
Identitas Radio
Konsep radio streaming RBS ngagunakeun sistem siaran otomatis (Auto DJ). RBS tiasa didangukeun langsung di www.radiobarayasunda.com, BlackBerry (aplikasi NuxRadio sareng BB Launcher), Android (Apliksi TuneIn), Nokia (Internet Radio), iPhone, sareng gadget sanesna. Radio streaming RBS ieu teu ngudag kauntungan (profit). Namung, kanggo ngadukung sewa server, domain, mayar listrik, pulsa modem, sareng waragad operasional sanesna, RBS nampi oge pangrojong ti pihak sanes (sponsor atanapi donatur).
Identitas Radio
● Nami udara: Radio Baraya Sunda (RBS)
● Tanggal diadegkeun: 20 Mei 2011
● Slogan radio: Radiona Urang Sunda di Alam Maya
● Jangkauan siaran: sakuliah dunya
● Media gelombang siaran: Streaming online (internet)
● Format siaran: Hiburan
● Website: www.radiobarayasunda.com
● Kontak donasi: kontakbaraya@gmail.com
● Facebok:
- Group Radio Baraya Sunda
- Halaman Radio Baraya Sunda
- Halaman Penggemar Lagu Sunda
● Twitter: @radio_rbs
Windows Media Player | Winamp | Facebook | TuneIn |
Shoutcast| Streaming The Net | NuXRadio | Real Player |
Shoutcast| Streaming The Net | NuXRadio | Real Player |
Profil Detty Kurnia
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Detty Kurnia, dilahirkan di Bandung 15 Agustus 1961. Detty Kurnia memulai karier sejak tahun 1985, banyak mengeluarkan album pop sunda, namanya lebih dulu muncul ketimbang pop sunda seperti Nining Meida AS. Bahkan pada tahun 2009 lalu, dalam suasana sakit Detty masih mengeluarkan album baru berjudul “Tapak Cinta”. Detty Kurnia populer di Jepang. Detty memang bisa menyanyikan lagu Jepang dengan baik.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Pada Selasa pagi tanggal 20 April 2010, pemilik suara melengking namun lembut itu menghembuskan napas terakhirnya, sesaat dilarikan ke RS. Hasan sadikin Bandung. Anak kedua dari tiga bersaudara ini wafat di usia 48 tahun. Empat tahun terakhir Detty Kurnia memang menderita kanker payudara, bahkan pada tahun 2008 sempat dioperasi, namun kanker itu menjalar ke organ tubuh yang lain.
Profil Rika Rafika
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Rika Rafika, lahir di Banjaran, Bandung, 17 Januari 1979, merupakan bungsu dari pasangan Enan Cardian dan Sula Nengsih. Rika seorang seniwati yang belajar seni secara otodidak, dan mengawali karirnya dengan menjadi penari. Dalam pendidikan formal Rika meraih gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat tahun 2007.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Selain sukses di panggung-panggung festival, kesuksesan Rika juga dibuktikan dengan menjadi Duta Seni ke beberapa Negara, seperti Rumania, Scotlandia, Yugoslavia, Turki, Yunani, Abudabi, Perancis, Belanda, Jepang, korea dan lain-lain.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Sosialisasi Kegiatan Sunda Binangkit
Posted by : Baru Baru 322 / on :Sabtu, 05 Maret 2011
Untuk meningkatkan awareness publik, kami pun melakukan kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit melalui media massa. Dalam hal ini, kami menggunakan jalur promosi di media cetak (koran), radio,dan televisi lokal di Bandung.
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Untuk media promosi lainnya juga kami menggunakan media cetak, antara lain: spanduk, baliho, majalah Banyolan Sunda, backdrop, name tag, t-shirt panitia, poster, dsb.
Kami pun melakukan sosialisasi dengan membentuk jaringan promosi di komunitas-komunitas Sunda yang selama ini menjadil kemitraan dengan Mitra Baraya dan Komunitas Banyolan Sunda. Untuk itu, penyebaran informasi mengenai kegiatan Sunda Binangkit dilakukan melalui kontak komunikasi langsung dan juga melalui jejaring sosial, yaitu di Facebook, Twitter, WhatsApp, radio online, dsb. Pola promosi dengan jejaring sosial ini dirasa efektif karena selama ini komunikasi kami dengan baraya Sunda lebih banyak di dunia maya. Salah satu kelebihannya lebih real time dalam update informasi, seperti penyebaran banner image, informasi bintang tamu, serta informasi pendaftaran stand.
Deskripsi Pelaksanaan Sunda Binangkit (1)
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Berikut ini rundwown kegiatan Sunda Binangkit yang digelar di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jln. peta no. 209 Bandung pada Minggu, 9 Februari 2014.
Pukul 07.00 - 09.00 WIB
Panitia memastikan persiapan lokasi kegiatan, panggung, sound system, dan juga para pengisi stand. Termasuk kesiapan media promosi yang dipasang di sekitar lokasi kegiatan.
Pukul 09.00 - 10.00 WIB
Para pengunjung, pengisi acara, perwakilan para penerima lifetime achievement sudah mulai berdatangan ke lokasi acara. MC acara menyiapkan kembali rundown acara bersama pihak panitia yang bertugas sebagai pengarah acara dan floor director.
Pukul 10.00 - 11.00 WIB
Para pengisi acara (Galengan Sora Awi, Sundanis Hip Hop, dan Dinasti Darso) bergiliran melakukan check sound. Hal ini untuk menyesuaikan dengan karakter musik dan lagu yang akan dibawakan.
Pukul 11.00 - 12.00 WIB
Acara dimulai dengan terlebih dahulu sebelum MC memasuki area panggung diperdengarkan beberapa iklan audio Bank BJB sebanyak 4 iklan (Waroeng BJB, DPLK, KMU, dan Forex BJB).
Kemudian MC masuk membuka acara. Acara dimulai dengan sambutan pidato pembukaan dari Ketua Panitia Sunda Binangkit.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun Komunitas Banyolan Sunda ke-5 dengan pemotongan tumpeng. Acara ini sekaligus juga launching Majalah Banyolan Sunda.
Setelah itu acara penganugerahan lifetime achievement kepada keluarga Kang Ibing, Wa Kepoh, dan Darso yang diwakili oleh istri Wa Kepoh, istri Kang Ibing, dan anggota keluarga Darso.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Sulap Dongeng (Sudong) Taufik Faturohman. Dimana dalam pementasan ini dilakukan secara interaktif dengan penonton. Di sela-sela acara diselipkan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit.
Profil Doel Sumbang
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Doel Sumbang, seniman mumpuni dalam ranah musik tanah air dan Tanah Pasundan. Seniman musik ini terkenal dengan lagu-lagunya, baik yang berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Sunda. Pemilik nama asli Wahyu Affandi ini muncul dalam kancah musik Indonesia sekitar tahun 1980-an. Karakter lagunya dengan pengucapan lagu tak lazim serta kritik sosial atau penggambaran sosial yang lebih “membumi”. Tidak heran jika lagu-lagunya tetap dikenal hingga kini.
Doel Sumbang lahir di Bandung, 16 Mei 1963 dengan nama Wahyu Affandi. Doel lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri yang agamis. Ayahnya yang dikenal dengan sebutan ‘Abah Kabayan’ adalah seorang mubalig di Kota Bandung. Ia mulai bersentuhan dengan dunia seni khusunya seni musik dan teater saat duduk di bangku SMP. Ia menimba ilmu pada sastrawan nyentrik, Remy Sylado. Di tempat inilah pertama kali dia mendapat julukan ‘Doel’. Sejak saat itu, Doel mulai menuangkan imajinasinya menjadi lirik-lirik lagu yang sarat dengan kritik sosial. Tema yang pada saat itu bisa dibilang belum banyak diangkat. Syair-syair yang digunakannya pun sederhana dan merakyat.
Keunikan itulah yang kemudian mengundang ketertarikan dari seorang produser bernama Handoko Kusumo. Ia berminat merekam karya-karya Kang Doel. Hingga pada akhirnya, Doel berhasil mengorbit di kancah musik tanah air sekitar tahun 80-an. Handoko juga yang menyematkan kata Sumbang di belakang nama Doel. ‘Sumbang’ di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik terhadap sistem maupun budaya, meski liriknya jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas. Kecerdasan kritik seorang Doel Sumbang dapat didengar lewat lagu Aku si Raja Goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dan masih banyak lagi. Ada pula lagu berjudul Aku, Tikus, dan Kucing, yang secara khusus diciptakannya untuk menyentil perilaku gadis zaman sekarang hingga kondisi kampung halamannya, Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.
Di sisi lain, Doel bukanlah musisi yang anti lagu cinta. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta namun tetap dengan gayanya. Meski liriknya nyeleneh, Doel mampu memberikan nuansa romantis namun tidak cengeng di setiap lagu-lagu cinta yang ditulisnya. Ia juga tak lupa menyematkan tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya seperti dalam lagu Arti Kehidupan.
Dari sekian banyak lagu bertema cinta yang ia ciptakan, lagu berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong-lah yang paling fenomenal. Lagu itu dibawakan secara duet dengan menggandeng pelantun Gantengnya Pacarku, Nini Karlina. Kesuksesan Kalau Bulan Bisa Ngomong melahirkan hits berikutnya, Rindu Aku Rindu Kamu yang juga dibawakannya bersama Nini. Selain Nini Karlina, Doel pernah berduet dengan seorang penyanyi bernama Ikko membawakan lagu Cuma Kamu.
Selain menciptakan lagu berbahasa Indonesia, Doel juga turut melestarikan bahasa Sunda lewat lagu-lagunya. Bagi penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan tembang Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dan masih banyak lagi.
Lagu berbahasa Sundanya pun tak lepas dari kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, dan Bereny. Lagu-lagu Sunda hasil kreativitas Doel bahkan meledak saat bergulirnya Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya Doel juga kerap dibawakan seniman Pasundan lainnya seperti Darso dan Nining Meida.
Doel memang sangat peduli pada budaya asli leluhurnya termasuk kepada sesama seniman Sunda. Meninggalnya Kang Ibing pada 19 Agustus 2010, kemudian mencetuskan ide untuk melestarikan karya-karya aktor pemeran tokoh Kabayan itu. Salah satunya adalah dengan mengaransemen ulang lagu ciptaan Kang Ibing yang berjudul Persib. Lagu tersebut diciptakan Kang Ibing saat Persib sedang berjaya. Selain mengaransemen ulang lagu Kang Ibing, Doel Sumbang dan sejumlah seniman lainnya juga berencana menerbitkan beberapa buku dan kumpulan puisi Kang Ibing.
Nama Doel Sumbang sempat tenggelam pada pertengahan tahun 2000-an. Meski demikian, bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu sebab ia masih menggarap lagu-lagu lama miliknya. Jika bicara soal eksistensinya sebagai penyanyi, ia merasa produktivitas tak hanya dinilai dari banyaknya ia tampil namun terlebih dari ide yang muncul dan semangatnya untuk terus berkarya.
Doel Sumbang lahir di Bandung, 16 Mei 1963 dengan nama Wahyu Affandi. Doel lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri yang agamis. Ayahnya yang dikenal dengan sebutan ‘Abah Kabayan’ adalah seorang mubalig di Kota Bandung. Ia mulai bersentuhan dengan dunia seni khusunya seni musik dan teater saat duduk di bangku SMP. Ia menimba ilmu pada sastrawan nyentrik, Remy Sylado. Di tempat inilah pertama kali dia mendapat julukan ‘Doel’. Sejak saat itu, Doel mulai menuangkan imajinasinya menjadi lirik-lirik lagu yang sarat dengan kritik sosial. Tema yang pada saat itu bisa dibilang belum banyak diangkat. Syair-syair yang digunakannya pun sederhana dan merakyat.
Keunikan itulah yang kemudian mengundang ketertarikan dari seorang produser bernama Handoko Kusumo. Ia berminat merekam karya-karya Kang Doel. Hingga pada akhirnya, Doel berhasil mengorbit di kancah musik tanah air sekitar tahun 80-an. Handoko juga yang menyematkan kata Sumbang di belakang nama Doel. ‘Sumbang’ di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik terhadap sistem maupun budaya, meski liriknya jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas. Kecerdasan kritik seorang Doel Sumbang dapat didengar lewat lagu Aku si Raja Goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dan masih banyak lagi. Ada pula lagu berjudul Aku, Tikus, dan Kucing, yang secara khusus diciptakannya untuk menyentil perilaku gadis zaman sekarang hingga kondisi kampung halamannya, Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.
Di sisi lain, Doel bukanlah musisi yang anti lagu cinta. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta namun tetap dengan gayanya. Meski liriknya nyeleneh, Doel mampu memberikan nuansa romantis namun tidak cengeng di setiap lagu-lagu cinta yang ditulisnya. Ia juga tak lupa menyematkan tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya seperti dalam lagu Arti Kehidupan.
Dari sekian banyak lagu bertema cinta yang ia ciptakan, lagu berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong-lah yang paling fenomenal. Lagu itu dibawakan secara duet dengan menggandeng pelantun Gantengnya Pacarku, Nini Karlina. Kesuksesan Kalau Bulan Bisa Ngomong melahirkan hits berikutnya, Rindu Aku Rindu Kamu yang juga dibawakannya bersama Nini. Selain Nini Karlina, Doel pernah berduet dengan seorang penyanyi bernama Ikko membawakan lagu Cuma Kamu.
Selain menciptakan lagu berbahasa Indonesia, Doel juga turut melestarikan bahasa Sunda lewat lagu-lagunya. Bagi penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan tembang Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dan masih banyak lagi.
Lagu berbahasa Sundanya pun tak lepas dari kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, dan Bereny. Lagu-lagu Sunda hasil kreativitas Doel bahkan meledak saat bergulirnya Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya Doel juga kerap dibawakan seniman Pasundan lainnya seperti Darso dan Nining Meida.
Doel memang sangat peduli pada budaya asli leluhurnya termasuk kepada sesama seniman Sunda. Meninggalnya Kang Ibing pada 19 Agustus 2010, kemudian mencetuskan ide untuk melestarikan karya-karya aktor pemeran tokoh Kabayan itu. Salah satunya adalah dengan mengaransemen ulang lagu ciptaan Kang Ibing yang berjudul Persib. Lagu tersebut diciptakan Kang Ibing saat Persib sedang berjaya. Selain mengaransemen ulang lagu Kang Ibing, Doel Sumbang dan sejumlah seniman lainnya juga berencana menerbitkan beberapa buku dan kumpulan puisi Kang Ibing.
Nama Doel Sumbang sempat tenggelam pada pertengahan tahun 2000-an. Meski demikian, bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu sebab ia masih menggarap lagu-lagu lama miliknya. Jika bicara soal eksistensinya sebagai penyanyi, ia merasa produktivitas tak hanya dinilai dari banyaknya ia tampil namun terlebih dari ide yang muncul dan semangatnya untuk terus berkarya.
Sumber: http://www.tumblr.com/
Deskripsi Kegiatan Sunda Binangkit (2)
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Pukul 13.00 - 14.00 WIB
Setelah jeda istirahat dan shalat, acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan jaipongan dan pertunjukan Galengan Sora Awi. Penampilan Galengan Sora Awi mengundang para penonton untuk berjoged bersama di dekat panggung. Di sela-sela acara diselipkan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit.
Pukul 14.00 - 15.00 WIB
Pukul 14.00 - 15.00 WIB
Acara pertunjukan dari Sundanis Hip Hop Sunda. Sundanis membawakan beberapa lagu yang diiringi pengiring musik dari DJ Mai. Penampilan Sundanis pun menarik pengunjung untuk bergoyang bersama dengan iringan musik yang nge-beat.
Pukul 15.00 - 16.00 WIB
Acara pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit oleh MC. Pembagian doorprize dilakukan secara interaktif oleh MC. Dalam bagian ini disebutkan juga nama-nama stand serta produk apa saja yang dijual. Setelah itu, pertunjukan calung dari Sanggar Ambu Tisum, Kuningan.
Pukul 16.00 - 17.30 WIB
Sebelum pindah ke acara selanjutnya, dilakukan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit. Lalu, masuk pengisi acara calung dari sanggar yang dikelola oleh keluarga Darso. Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan dari bintang tamu Dinasti Darso (Yayan Jatnika, Asep Darso, Ujang Darso).
Profil Idjah Hadidjah
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Hj. Idjah Hadijah, ejaan lama: Idjah Hadidjah lahir di Kabupaten Karawang, 12 Maret 1956; adalah pesinden wayang golek dan penyanyi lagu jaipongan asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Suaminya bernama Tjetjep Supriadi, seorang pemimpin grup wayang golek. Ia sering menyanyi ditemani Samin dan Suwanda yang bermain kendang. Lagu hit jaipongan darinya adalah "Daun Pulus Keser Bojong".
Karier
Ijah dilahirkan dari orang tua pecinta seni Sunda, dan mulai belajar sebagai pesinden sejak tahun 1970-an. Ia berguru kepada Deden Winingsih, dan bergabung dengan kelompok wayang golek Tjetjep Supriadi sejak tahun 1972. Tjetjep Supriadi kemudian menjadi suaminya.
Pada tahun 1980-an, Ijah berada di puncak karier sebagai pesinden untuk kelompok wayang golek yang dipimpin oleh suaminya. Gugum Gumbira lalu mengontraknya untuk menyanyikan lagu-lagu jaipong untuk grup Jugala. Selama sekitar 4 tahun, Ijah merekam sekitar 40 album jaipongan dalam bentuk kaset, serta musik berirama lainnya. Lagu "Daun Pulus Keser Bojong" sukses sebagai lagu hit, dan kini telah menjadi lagu standar untuk jaipongan. Lagu tersebut telah dirilis di Amerika Serikat oleh Elektra/Nonesuch Records dalam album Tonggeret pada tahun 1987. Album Tonggeret dirilis ulang pada tahun 2003 dalam album West Java: Sundanese Jaipong and other Popular Music.
Sebagai penyanyi terkenal dengan teknik vokal yang disenangi penggemar laki-laki, Ijah tidak pernah tampil menyanyi atau menari di atas panggung. Ia bahkan pernah berkata bahwa rekaman jaipongan bukan merupakan favoritnya karena pukulan kendang yang dinamis mengganggunya sewaktu menyanyi.
Karier
Ijah dilahirkan dari orang tua pecinta seni Sunda, dan mulai belajar sebagai pesinden sejak tahun 1970-an. Ia berguru kepada Deden Winingsih, dan bergabung dengan kelompok wayang golek Tjetjep Supriadi sejak tahun 1972. Tjetjep Supriadi kemudian menjadi suaminya.
Pada tahun 1980-an, Ijah berada di puncak karier sebagai pesinden untuk kelompok wayang golek yang dipimpin oleh suaminya. Gugum Gumbira lalu mengontraknya untuk menyanyikan lagu-lagu jaipong untuk grup Jugala. Selama sekitar 4 tahun, Ijah merekam sekitar 40 album jaipongan dalam bentuk kaset, serta musik berirama lainnya. Lagu "Daun Pulus Keser Bojong" sukses sebagai lagu hit, dan kini telah menjadi lagu standar untuk jaipongan. Lagu tersebut telah dirilis di Amerika Serikat oleh Elektra/Nonesuch Records dalam album Tonggeret pada tahun 1987. Album Tonggeret dirilis ulang pada tahun 2003 dalam album West Java: Sundanese Jaipong and other Popular Music.
Sebagai penyanyi terkenal dengan teknik vokal yang disenangi penggemar laki-laki, Ijah tidak pernah tampil menyanyi atau menari di atas panggung. Ia bahkan pernah berkata bahwa rekaman jaipongan bukan merupakan favoritnya karena pukulan kendang yang dinamis mengganggunya sewaktu menyanyi.
Diskografi
Album
- Daun Pulus Keser Bojong
- Melak Sampeu: Ketuk Tilu Jaipong Vol 1 (bersama Usdi Group)
- Kembang Gandrung Raranggeuyan (bersama Jugala Group)
- Buludru Hideung (bersama Jugala Group)
- Jaipongan Daun Pulus
- Tepung Di Luhur Panggung
- Seunggah (bersama Jugala Group)
- Kang Ibing: Istri Pangharan
- Serat Salira
- Tepung Du Luhur Panggung (bersama Pangrawit Group)
- Sinden Beken Vol. VII (bersama Jugala Group)
- Ijah - Kidung - Surat Kayas
- Kembang Gandrung Raranggeuyan (bersama Jugala Group)
- Buludru Hideung (bersama Jugala Group)
- Jaipongan Daun Pulus
- Tepung Di Luhur Panggung
- Seunggah (bersama Jugala Group)
- Kang Ibing: Istri Pangharan
- Serat Salira
- Tepung Du Luhur Panggung (bersama Pangrawit Group)
- Sinden Beken Vol. VII (bersama Jugala Group)
- Ijah - Kidung - Surat Kayas
Sumber: http://id.wikipedia.org/



















