Tampilkan postingan dengan label europe. Tampilkan semua postingan
Banyak yang tergila-gila dengan suara melengking-lengkingnya Upit Sarimanah sehingga saat siarannya berlangsung tiap Ahad pagi, Museum Nasional selalu ramai pengunjung. Tidak jarang para penontonnya bertepuk tangan dan bersuit. Penggemarnya ada yang dari Bandung. Saking banyaknya penggemar yang datang, saat menyanyi Upit duduk di bangku khusus yang letaknya lebih tinggi dari dalang dan para pemain tetabuhan. Bahkan ketenaran sinden ini melebihi ketenaran dalangnya sendiri.
Selain Mojang Priangan, beberapa lagu Upit Sarimanah yang populer antara lain Bajing Luncat, Sakadang Kuya jeung Monyet, Kukupu, dan Sedih Prihatin. Upit pernah memimpin “Gamelan Siliwangi”. Beberapa lagu yang direkam Perusahaan Piringan Hitam “Dimita Moulding Industries” antara lain Ekek Paeh Tablo (NN), Karyawan Elodan (Upit Sarimanah), Tauco Cianjur (Moch. Jasin), Nampi Ondangan, Gupay Pileuleuyan (Mang Koko), Mojang (Upit Sarimanah), Bangbung Ranggaek (Kosaman Djaja), Nyoreang ka Tukang, Bajing Luncat (Kosaman Djaja), Hariring nu Kungsi Nyanding (Mang Koko/S. Winarja), dan Mapay Laratan.
Tahun 1970-an ketika pensiun dari sinden, Upit memilih profesi sebagai mubalighah. Sebagai juru dakwah ia mendapat banyak panggilan. Dengan suaranya yang merdu, saat dakwah dia melantunkan lagu dan berpantun berisi ajakan pada umat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sinden yang ramah dan murah senyum ini tidak merasa kehilangan gengsi saat mendatangi kampung-kampung yang kumuh. Tidak tergiur amplop lebih besar hingga mengabaikan panggilan masyarakat tidak berpunya.
Hajah Upit Sarimanah yang pada usia lanjutnya mengidap komplikasi ginjal, darah tinggi, dan beberapa penyakit lainnya, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Al Afiah pada 11 Februari 1992.
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Profil Bungsu Bandung
Posted by : Baru Baru 322 / on :Kamis, 11 Agustus 2011
Bungsu Bandung yang bernama lengkap Hj. Mimi Setiawati, adalah penyanyi Sunda asal Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Ibu yang punya suara khas ngajelengeng nan indah ini dilahirkan tanggal 5 November 1962, anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden. Bertahun-tahun lamanya ibu beranak tiga ini menekuni dunia musik, tak heran jika ia kini dikenal luas dan digemari oleh banyak orang Sunda.
Urang Sunda pun sudah tak asing lagi dengan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut” yang dilantunkan Mamah Bungsu Bandung. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut, ibu yang senang berkebaya anggun dan pandai menari jaipong ini juga pandai melantunkan lagam degung, jaipong, ketuk tilu, kasidah, dll. Kini, Mamah Bungsu Bandung telah melahirkan puluhan album yang banyak disukai para penggemar musik Sunda.
Profil Detty Kurnia
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Detty Kurnia, dilahirkan di Bandung 15 Agustus 1961. Detty Kurnia memulai karier sejak tahun 1985, banyak mengeluarkan album pop sunda, namanya lebih dulu muncul ketimbang pop sunda seperti Nining Meida AS. Bahkan pada tahun 2009 lalu, dalam suasana sakit Detty masih mengeluarkan album baru berjudul “Tapak Cinta”. Detty Kurnia populer di Jepang. Detty memang bisa menyanyikan lagu Jepang dengan baik.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Pada Selasa pagi tanggal 20 April 2010, pemilik suara melengking namun lembut itu menghembuskan napas terakhirnya, sesaat dilarikan ke RS. Hasan sadikin Bandung. Anak kedua dari tiga bersaudara ini wafat di usia 48 tahun. Empat tahun terakhir Detty Kurnia memang menderita kanker payudara, bahkan pada tahun 2008 sempat dioperasi, namun kanker itu menjalar ke organ tubuh yang lain.
Profil Upit Sarimanah
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Upit Sarimanah dilahirkan di Sadang, Purwakarta, 16 April 1928 dengan nama asli Suryamah. Sejak kecil, ia sudah memperlihatkan bakatnya menyanyi. Bahkan tatkala usianya menginjak tujuh tahun, ia sudah berani tampil di depan umum. Sejak itu, orang sudah menduga, gadis kecil berkulit hitam manis itu, suatu saat bisa menjadi pesinden terkenal. Apalagi setelah suaranya mengalun lewat acara di Radio Nirom, radio milik Belanda di Bandung.
Bahkan sebelum TVRI lahir; dimana saat itu RRI merupakan satu-satunya hiburan yang menjangkau masyarakat luas, salah satu siaran favoritnya, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat, adalah kesenian Sunda. Kesenian ini disiarkan langsung dari Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat dengan pesindennya Upit Sarimanah yang memiliki paras hitam manis dan selalu tampil berpakaian kain dan kebaya.
Bahkan sebelum TVRI lahir; dimana saat itu RRI merupakan satu-satunya hiburan yang menjangkau masyarakat luas, salah satu siaran favoritnya, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat, adalah kesenian Sunda. Kesenian ini disiarkan langsung dari Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat dengan pesindennya Upit Sarimanah yang memiliki paras hitam manis dan selalu tampil berpakaian kain dan kebaya.
Banyak yang tergila-gila dengan suara melengking-lengkingnya Upit Sarimanah sehingga saat siarannya berlangsung tiap Ahad pagi, Museum Nasional selalu ramai pengunjung. Tidak jarang para penontonnya bertepuk tangan dan bersuit. Penggemarnya ada yang dari Bandung. Saking banyaknya penggemar yang datang, saat menyanyi Upit duduk di bangku khusus yang letaknya lebih tinggi dari dalang dan para pemain tetabuhan. Bahkan ketenaran sinden ini melebihi ketenaran dalangnya sendiri.
Selain Mojang Priangan, beberapa lagu Upit Sarimanah yang populer antara lain Bajing Luncat, Sakadang Kuya jeung Monyet, Kukupu, dan Sedih Prihatin. Upit pernah memimpin “Gamelan Siliwangi”. Beberapa lagu yang direkam Perusahaan Piringan Hitam “Dimita Moulding Industries” antara lain Ekek Paeh Tablo (NN), Karyawan Elodan (Upit Sarimanah), Tauco Cianjur (Moch. Jasin), Nampi Ondangan, Gupay Pileuleuyan (Mang Koko), Mojang (Upit Sarimanah), Bangbung Ranggaek (Kosaman Djaja), Nyoreang ka Tukang, Bajing Luncat (Kosaman Djaja), Hariring nu Kungsi Nyanding (Mang Koko/S. Winarja), dan Mapay Laratan.
Tahun 1970-an ketika pensiun dari sinden, Upit memilih profesi sebagai mubalighah. Sebagai juru dakwah ia mendapat banyak panggilan. Dengan suaranya yang merdu, saat dakwah dia melantunkan lagu dan berpantun berisi ajakan pada umat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sinden yang ramah dan murah senyum ini tidak merasa kehilangan gengsi saat mendatangi kampung-kampung yang kumuh. Tidak tergiur amplop lebih besar hingga mengabaikan panggilan masyarakat tidak berpunya.
Hajah Upit Sarimanah yang pada usia lanjutnya mengidap komplikasi ginjal, darah tinggi, dan beberapa penyakit lainnya, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Al Afiah pada 11 Februari 1992.
Sumber:
Profil Rika Rafika
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Rika Rafika, lahir di Banjaran, Bandung, 17 Januari 1979, merupakan bungsu dari pasangan Enan Cardian dan Sula Nengsih. Rika seorang seniwati yang belajar seni secara otodidak, dan mengawali karirnya dengan menjadi penari. Dalam pendidikan formal Rika meraih gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat tahun 2007.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Selain sukses di panggung-panggung festival, kesuksesan Rika juga dibuktikan dengan menjadi Duta Seni ke beberapa Negara, seperti Rumania, Scotlandia, Yugoslavia, Turki, Yunani, Abudabi, Perancis, Belanda, Jepang, korea dan lain-lain.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Profil Darso
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso (lahir di Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 1945 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 12 September 2011 pada umur 66 tahun)adalah penyanyi pop Sunda Indonesia. ia mempunyai seorang istri pertama bernama Epong (almarhum), setelah istrinya meninggal kemudian menikah dengan Lina Marlina.
Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peritiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 beliau memulai lagi karirnya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.
Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".
Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peritiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 beliau memulai lagi karirnya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.
Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".
Pada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "randa geulis", "maribaya", "dina amparan sajadah", "kabogoh jauh".
Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.
Ia meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,
Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.
Ia meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,
Mirum est notare quam
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi.
Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.
Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.
Sosialisasi Kegiatan Sunda Binangkit
Posted by : Baru Baru 322 / on :Sabtu, 05 Maret 2011
Untuk meningkatkan awareness publik, kami pun melakukan kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit melalui media massa. Dalam hal ini, kami menggunakan jalur promosi di media cetak (koran), radio,dan televisi lokal di Bandung.
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Untuk media promosi lainnya juga kami menggunakan media cetak, antara lain: spanduk, baliho, majalah Banyolan Sunda, backdrop, name tag, t-shirt panitia, poster, dsb.
Kami pun melakukan sosialisasi dengan membentuk jaringan promosi di komunitas-komunitas Sunda yang selama ini menjadil kemitraan dengan Mitra Baraya dan Komunitas Banyolan Sunda. Untuk itu, penyebaran informasi mengenai kegiatan Sunda Binangkit dilakukan melalui kontak komunikasi langsung dan juga melalui jejaring sosial, yaitu di Facebook, Twitter, WhatsApp, radio online, dsb. Pola promosi dengan jejaring sosial ini dirasa efektif karena selama ini komunikasi kami dengan baraya Sunda lebih banyak di dunia maya. Salah satu kelebihannya lebih real time dalam update informasi, seperti penyebaran banner image, informasi bintang tamu, serta informasi pendaftaran stand.












