Tampilkan postingan dengan label pasundan. Tampilkan semua postingan
● Nami udara: Radio Baraya Sunda (RBS)
● Tanggal diadegkeun: 20 Mei 2011
● Slogan radio: Radiona Urang Sunda di Alam Maya
● Jangkauan siaran: sakuliah dunya
● Media gelombang siaran: Streaming online (internet)
● Format siaran: Hiburan
● Website: www.radiobarayasunda.com
● Kontak donasi: kontakbaraya@gmail.com
● Facebok:
- Group Radio Baraya Sunda
- Halaman Radio Baraya Sunda
- Halaman Penggemar Lagu Sunda
● Twitter: @radio_rbs
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Pukul 07.00 - 09.00 WIB
Panitia memastikan persiapan lokasi kegiatan, panggung, sound system, dan juga para pengisi stand. Termasuk kesiapan media promosi yang dipasang di sekitar lokasi kegiatan.
Pukul 09.00 - 10.00 WIB
Para pengunjung, pengisi acara, perwakilan para penerima lifetime achievement sudah mulai berdatangan ke lokasi acara. MC acara menyiapkan kembali rundown acara bersama pihak panitia yang bertugas sebagai pengarah acara dan floor director.
Pukul 10.00 - 11.00 WIB
Para pengisi acara (Galengan Sora Awi, Sundanis Hip Hop, dan Dinasti Darso) bergiliran melakukan check sound. Hal ini untuk menyesuaikan dengan karakter musik dan lagu yang akan dibawakan.
Pukul 11.00 - 12.00 WIB
Profil Radio Baraya Sunda
Posted by : Baru Baru 322 / on :Kamis, 11 Agustus 2011
Radio Baraya Sunda (RBS), radio nu ngahususkan siaran dina jalur streaming online (internet). RBS diadegkeun di Bandung, Jawa Barat, Indonesia ping 20 Mei 2011 sacara rereongan (swadaya) ku sababaraha urang baraya Sunda di jaringan media sosial. Tujuan diadegkeunna Radio Baraya Sunda ieu salain kanggo ngawanohkeun khazanah Sunda oge media kanggo ngaraketkeun tali mimitran kaum dangu baraya RBS, nu aya di Tatar Sunda, Nusantara, oge nu nuju gumbara di luar negeri. Segmentasi kaum dangu RBS aya oge nu ti luar seke seler Sunda sareng urang asing (mancanegara).
Konsep radio streaming RBS ngagunakeun sistem siaran otomatis (Auto DJ). RBS tiasa didangukeun langsung di www.radiobarayasunda.com, BlackBerry (aplikasi NuxRadio sareng BB Launcher), Android (Apliksi TuneIn), Nokia (Internet Radio), iPhone, sareng gadget sanesna. Radio streaming RBS ieu teu ngudag kauntungan (profit). Namung, kanggo ngadukung sewa server, domain, mayar listrik, pulsa modem, sareng waragad operasional sanesna, RBS nampi oge pangrojong ti pihak sanes (sponsor atanapi donatur).
Identitas Radio
Konsep radio streaming RBS ngagunakeun sistem siaran otomatis (Auto DJ). RBS tiasa didangukeun langsung di www.radiobarayasunda.com, BlackBerry (aplikasi NuxRadio sareng BB Launcher), Android (Apliksi TuneIn), Nokia (Internet Radio), iPhone, sareng gadget sanesna. Radio streaming RBS ieu teu ngudag kauntungan (profit). Namung, kanggo ngadukung sewa server, domain, mayar listrik, pulsa modem, sareng waragad operasional sanesna, RBS nampi oge pangrojong ti pihak sanes (sponsor atanapi donatur).
Identitas Radio
● Nami udara: Radio Baraya Sunda (RBS)
● Tanggal diadegkeun: 20 Mei 2011
● Slogan radio: Radiona Urang Sunda di Alam Maya
● Jangkauan siaran: sakuliah dunya
● Media gelombang siaran: Streaming online (internet)
● Format siaran: Hiburan
● Website: www.radiobarayasunda.com
● Kontak donasi: kontakbaraya@gmail.com
● Facebok:
- Group Radio Baraya Sunda
- Halaman Radio Baraya Sunda
- Halaman Penggemar Lagu Sunda
● Twitter: @radio_rbs
Windows Media Player | Winamp | Facebook | TuneIn |
Shoutcast| Streaming The Net | NuXRadio | Real Player |
Shoutcast| Streaming The Net | NuXRadio | Real Player |
Profil Detty Kurnia
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Detty Kurnia, dilahirkan di Bandung 15 Agustus 1961. Detty Kurnia memulai karier sejak tahun 1985, banyak mengeluarkan album pop sunda, namanya lebih dulu muncul ketimbang pop sunda seperti Nining Meida AS. Bahkan pada tahun 2009 lalu, dalam suasana sakit Detty masih mengeluarkan album baru berjudul “Tapak Cinta”. Detty Kurnia populer di Jepang. Detty memang bisa menyanyikan lagu Jepang dengan baik.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Semasa jayanya pada tahun 80-90 an, Detty sering berduet dengan seniman Darso dan keliling dunia sebagai duta budaya dari tanah air, seperti Missi Expo 70 ke Osaka dan Tokyo Jepang tahun 19900-an. Lagu-lagu yang sangat terkenal di tatar sunda antara lain “Mawar Bodas” dan “Maribaya”. Sosok Detty dikenal juga pandai memainkan alat musik calung dan degung.
Pada Selasa pagi tanggal 20 April 2010, pemilik suara melengking namun lembut itu menghembuskan napas terakhirnya, sesaat dilarikan ke RS. Hasan sadikin Bandung. Anak kedua dari tiga bersaudara ini wafat di usia 48 tahun. Empat tahun terakhir Detty Kurnia memang menderita kanker payudara, bahkan pada tahun 2008 sempat dioperasi, namun kanker itu menjalar ke organ tubuh yang lain.
Profil Rika Rafika
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Rika Rafika, lahir di Banjaran, Bandung, 17 Januari 1979, merupakan bungsu dari pasangan Enan Cardian dan Sula Nengsih. Rika seorang seniwati yang belajar seni secara otodidak, dan mengawali karirnya dengan menjadi penari. Dalam pendidikan formal Rika meraih gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat tahun 2007.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Perjalanan karir Rika dimulai sejak kelas 3 SD dengan sering menjadi juara di berbagai lomba seni, seperti Juara I Lomba Jaipongan se-Jawa Barat ( 1999), juara I Lomba Lagu Sunda karya Mang Koko se– Jawa Barat ( 1999), juara I lagu Sunda HUT PT. Pindad ke- 17 (2000), HUT Korpri ke- 32 (2003), juara Lomba dan Festival Sinden tingkat Nasional memperebutkan tropi Titim Fatimah (2004). Perlahan, darah seni yang dimilikinya membaawa karir Rika di jalur pop sunda semakin baik. Suaranya yang lembut membuai sesuai dengan ciri khas penyanyi sunda, membuat Rika semakin digemari. Apalagi bisa dibilang tak banyak artis pop sunda wanita yang lahir di Bandung.
Selain sukses di panggung-panggung festival, kesuksesan Rika juga dibuktikan dengan menjadi Duta Seni ke beberapa Negara, seperti Rumania, Scotlandia, Yugoslavia, Turki, Yunani, Abudabi, Perancis, Belanda, Jepang, korea dan lain-lain.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman tahun 1996, dan sampai sekarang sudah mengeluarkan beberapa album Degung, Jaipongan, dan Pop Sunda, diantaranya “Dalingding Asih”, “Bentang Midang”, dan “Rujak Cuka”.
Nama Rika Rafika semakin dikenal luas sejak ia menjadi presenter acara lagu sunda tahun 2005, dan mengeluarkan album Pop Sunda berjudul “Dalingding Asih”. Judul album ini pula yang melekat di hati masyarakat Jawa Barat pecinta lagu-lagu Sunda, sehingga namanya lebih dikenal dengan “Rika Rafika si Dalingding Asih”. Sekarang ini Rika mengisi hari-harinya dengan menjadi presenter acara lagu Sunda interaktif “Dalingding Asih” di Bandung TV, presenter beberapa acara Show di TVRI Jabar Banten, dan menjadi presenter dan bintang tamu di acara-acara off air.
Profil Darso
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso (lahir di Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 1945 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 12 September 2011 pada umur 66 tahun)adalah penyanyi pop Sunda Indonesia. ia mempunyai seorang istri pertama bernama Epong (almarhum), setelah istrinya meninggal kemudian menikah dengan Lina Marlina.
Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peritiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 beliau memulai lagi karirnya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.
Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".
Darso memulai karir sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peritiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 beliau memulai lagi karirnya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.
Atas arahan S. Hidayat Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah Asmara Record memulai rekaman di atas pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".
Pada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "randa geulis", "maribaya", "dina amparan sajadah", "kabogoh jauh".
Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.
Ia meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,
Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugrah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Walikota Bandung Dada Rosada berupa Anugrah Budaya Kota Bandung 2009.
Ia meninggal dunia pada Senin, 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,
Sosialisasi Kegiatan Sunda Binangkit
Posted by : Baru Baru 322 / on :Sabtu, 05 Maret 2011
Untuk meningkatkan awareness publik, kami pun melakukan kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit melalui media massa. Dalam hal ini, kami menggunakan jalur promosi di media cetak (koran), radio,dan televisi lokal di Bandung.
Berikut ini beberapa kegiatan promosi kegiatan Sunda Binangkit yang kami lakukan di media massa cetak dan elektronik.
Untuk media promosi lainnya juga kami menggunakan media cetak, antara lain: spanduk, baliho, majalah Banyolan Sunda, backdrop, name tag, t-shirt panitia, poster, dsb.
Kami pun melakukan sosialisasi dengan membentuk jaringan promosi di komunitas-komunitas Sunda yang selama ini menjadil kemitraan dengan Mitra Baraya dan Komunitas Banyolan Sunda. Untuk itu, penyebaran informasi mengenai kegiatan Sunda Binangkit dilakukan melalui kontak komunikasi langsung dan juga melalui jejaring sosial, yaitu di Facebook, Twitter, WhatsApp, radio online, dsb. Pola promosi dengan jejaring sosial ini dirasa efektif karena selama ini komunikasi kami dengan baraya Sunda lebih banyak di dunia maya. Salah satu kelebihannya lebih real time dalam update informasi, seperti penyebaran banner image, informasi bintang tamu, serta informasi pendaftaran stand.
Deskripsi Pelaksanaan Sunda Binangkit (1)
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Berikut ini rundwown kegiatan Sunda Binangkit yang digelar di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jln. peta no. 209 Bandung pada Minggu, 9 Februari 2014.
Pukul 07.00 - 09.00 WIB
Panitia memastikan persiapan lokasi kegiatan, panggung, sound system, dan juga para pengisi stand. Termasuk kesiapan media promosi yang dipasang di sekitar lokasi kegiatan.
Pukul 09.00 - 10.00 WIB
Para pengunjung, pengisi acara, perwakilan para penerima lifetime achievement sudah mulai berdatangan ke lokasi acara. MC acara menyiapkan kembali rundown acara bersama pihak panitia yang bertugas sebagai pengarah acara dan floor director.
Pukul 10.00 - 11.00 WIB
Para pengisi acara (Galengan Sora Awi, Sundanis Hip Hop, dan Dinasti Darso) bergiliran melakukan check sound. Hal ini untuk menyesuaikan dengan karakter musik dan lagu yang akan dibawakan.
Pukul 11.00 - 12.00 WIB
Acara dimulai dengan terlebih dahulu sebelum MC memasuki area panggung diperdengarkan beberapa iklan audio Bank BJB sebanyak 4 iklan (Waroeng BJB, DPLK, KMU, dan Forex BJB).
Kemudian MC masuk membuka acara. Acara dimulai dengan sambutan pidato pembukaan dari Ketua Panitia Sunda Binangkit.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun Komunitas Banyolan Sunda ke-5 dengan pemotongan tumpeng. Acara ini sekaligus juga launching Majalah Banyolan Sunda.
Setelah itu acara penganugerahan lifetime achievement kepada keluarga Kang Ibing, Wa Kepoh, dan Darso yang diwakili oleh istri Wa Kepoh, istri Kang Ibing, dan anggota keluarga Darso.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Sulap Dongeng (Sudong) Taufik Faturohman. Dimana dalam pementasan ini dilakukan secara interaktif dengan penonton. Di sela-sela acara diselipkan pembagian doorprize dan penyebutan sponsor pendukung acara Sunda Binangkit.
Profil Doel Sumbang
Posted by : Baru Baru 322 / on :
Doel Sumbang, seniman mumpuni dalam ranah musik tanah air dan Tanah Pasundan. Seniman musik ini terkenal dengan lagu-lagunya, baik yang berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Sunda. Pemilik nama asli Wahyu Affandi ini muncul dalam kancah musik Indonesia sekitar tahun 1980-an. Karakter lagunya dengan pengucapan lagu tak lazim serta kritik sosial atau penggambaran sosial yang lebih “membumi”. Tidak heran jika lagu-lagunya tetap dikenal hingga kini.
Doel Sumbang lahir di Bandung, 16 Mei 1963 dengan nama Wahyu Affandi. Doel lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri yang agamis. Ayahnya yang dikenal dengan sebutan ‘Abah Kabayan’ adalah seorang mubalig di Kota Bandung. Ia mulai bersentuhan dengan dunia seni khusunya seni musik dan teater saat duduk di bangku SMP. Ia menimba ilmu pada sastrawan nyentrik, Remy Sylado. Di tempat inilah pertama kali dia mendapat julukan ‘Doel’. Sejak saat itu, Doel mulai menuangkan imajinasinya menjadi lirik-lirik lagu yang sarat dengan kritik sosial. Tema yang pada saat itu bisa dibilang belum banyak diangkat. Syair-syair yang digunakannya pun sederhana dan merakyat.
Keunikan itulah yang kemudian mengundang ketertarikan dari seorang produser bernama Handoko Kusumo. Ia berminat merekam karya-karya Kang Doel. Hingga pada akhirnya, Doel berhasil mengorbit di kancah musik tanah air sekitar tahun 80-an. Handoko juga yang menyematkan kata Sumbang di belakang nama Doel. ‘Sumbang’ di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik terhadap sistem maupun budaya, meski liriknya jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas. Kecerdasan kritik seorang Doel Sumbang dapat didengar lewat lagu Aku si Raja Goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dan masih banyak lagi. Ada pula lagu berjudul Aku, Tikus, dan Kucing, yang secara khusus diciptakannya untuk menyentil perilaku gadis zaman sekarang hingga kondisi kampung halamannya, Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.
Di sisi lain, Doel bukanlah musisi yang anti lagu cinta. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta namun tetap dengan gayanya. Meski liriknya nyeleneh, Doel mampu memberikan nuansa romantis namun tidak cengeng di setiap lagu-lagu cinta yang ditulisnya. Ia juga tak lupa menyematkan tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya seperti dalam lagu Arti Kehidupan.
Dari sekian banyak lagu bertema cinta yang ia ciptakan, lagu berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong-lah yang paling fenomenal. Lagu itu dibawakan secara duet dengan menggandeng pelantun Gantengnya Pacarku, Nini Karlina. Kesuksesan Kalau Bulan Bisa Ngomong melahirkan hits berikutnya, Rindu Aku Rindu Kamu yang juga dibawakannya bersama Nini. Selain Nini Karlina, Doel pernah berduet dengan seorang penyanyi bernama Ikko membawakan lagu Cuma Kamu.
Selain menciptakan lagu berbahasa Indonesia, Doel juga turut melestarikan bahasa Sunda lewat lagu-lagunya. Bagi penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan tembang Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dan masih banyak lagi.
Lagu berbahasa Sundanya pun tak lepas dari kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, dan Bereny. Lagu-lagu Sunda hasil kreativitas Doel bahkan meledak saat bergulirnya Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya Doel juga kerap dibawakan seniman Pasundan lainnya seperti Darso dan Nining Meida.
Doel memang sangat peduli pada budaya asli leluhurnya termasuk kepada sesama seniman Sunda. Meninggalnya Kang Ibing pada 19 Agustus 2010, kemudian mencetuskan ide untuk melestarikan karya-karya aktor pemeran tokoh Kabayan itu. Salah satunya adalah dengan mengaransemen ulang lagu ciptaan Kang Ibing yang berjudul Persib. Lagu tersebut diciptakan Kang Ibing saat Persib sedang berjaya. Selain mengaransemen ulang lagu Kang Ibing, Doel Sumbang dan sejumlah seniman lainnya juga berencana menerbitkan beberapa buku dan kumpulan puisi Kang Ibing.
Nama Doel Sumbang sempat tenggelam pada pertengahan tahun 2000-an. Meski demikian, bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu sebab ia masih menggarap lagu-lagu lama miliknya. Jika bicara soal eksistensinya sebagai penyanyi, ia merasa produktivitas tak hanya dinilai dari banyaknya ia tampil namun terlebih dari ide yang muncul dan semangatnya untuk terus berkarya.
Doel Sumbang lahir di Bandung, 16 Mei 1963 dengan nama Wahyu Affandi. Doel lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri yang agamis. Ayahnya yang dikenal dengan sebutan ‘Abah Kabayan’ adalah seorang mubalig di Kota Bandung. Ia mulai bersentuhan dengan dunia seni khusunya seni musik dan teater saat duduk di bangku SMP. Ia menimba ilmu pada sastrawan nyentrik, Remy Sylado. Di tempat inilah pertama kali dia mendapat julukan ‘Doel’. Sejak saat itu, Doel mulai menuangkan imajinasinya menjadi lirik-lirik lagu yang sarat dengan kritik sosial. Tema yang pada saat itu bisa dibilang belum banyak diangkat. Syair-syair yang digunakannya pun sederhana dan merakyat.
Keunikan itulah yang kemudian mengundang ketertarikan dari seorang produser bernama Handoko Kusumo. Ia berminat merekam karya-karya Kang Doel. Hingga pada akhirnya, Doel berhasil mengorbit di kancah musik tanah air sekitar tahun 80-an. Handoko juga yang menyematkan kata Sumbang di belakang nama Doel. ‘Sumbang’ di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik terhadap sistem maupun budaya, meski liriknya jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas. Kecerdasan kritik seorang Doel Sumbang dapat didengar lewat lagu Aku si Raja Goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dan masih banyak lagi. Ada pula lagu berjudul Aku, Tikus, dan Kucing, yang secara khusus diciptakannya untuk menyentil perilaku gadis zaman sekarang hingga kondisi kampung halamannya, Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.
Di sisi lain, Doel bukanlah musisi yang anti lagu cinta. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta namun tetap dengan gayanya. Meski liriknya nyeleneh, Doel mampu memberikan nuansa romantis namun tidak cengeng di setiap lagu-lagu cinta yang ditulisnya. Ia juga tak lupa menyematkan tentang makna hidup manusia yang sesungguhnya seperti dalam lagu Arti Kehidupan.
Dari sekian banyak lagu bertema cinta yang ia ciptakan, lagu berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong-lah yang paling fenomenal. Lagu itu dibawakan secara duet dengan menggandeng pelantun Gantengnya Pacarku, Nini Karlina. Kesuksesan Kalau Bulan Bisa Ngomong melahirkan hits berikutnya, Rindu Aku Rindu Kamu yang juga dibawakannya bersama Nini. Selain Nini Karlina, Doel pernah berduet dengan seorang penyanyi bernama Ikko membawakan lagu Cuma Kamu.
Selain menciptakan lagu berbahasa Indonesia, Doel juga turut melestarikan bahasa Sunda lewat lagu-lagunya. Bagi penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan tembang Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dan masih banyak lagi.
Lagu berbahasa Sundanya pun tak lepas dari kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, dan Bereny. Lagu-lagu Sunda hasil kreativitas Doel bahkan meledak saat bergulirnya Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya Doel juga kerap dibawakan seniman Pasundan lainnya seperti Darso dan Nining Meida.
Doel memang sangat peduli pada budaya asli leluhurnya termasuk kepada sesama seniman Sunda. Meninggalnya Kang Ibing pada 19 Agustus 2010, kemudian mencetuskan ide untuk melestarikan karya-karya aktor pemeran tokoh Kabayan itu. Salah satunya adalah dengan mengaransemen ulang lagu ciptaan Kang Ibing yang berjudul Persib. Lagu tersebut diciptakan Kang Ibing saat Persib sedang berjaya. Selain mengaransemen ulang lagu Kang Ibing, Doel Sumbang dan sejumlah seniman lainnya juga berencana menerbitkan beberapa buku dan kumpulan puisi Kang Ibing.
Nama Doel Sumbang sempat tenggelam pada pertengahan tahun 2000-an. Meski demikian, bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu sebab ia masih menggarap lagu-lagu lama miliknya. Jika bicara soal eksistensinya sebagai penyanyi, ia merasa produktivitas tak hanya dinilai dari banyaknya ia tampil namun terlebih dari ide yang muncul dan semangatnya untuk terus berkarya.
Sumber: http://www.tumblr.com/











